Jumat, 04 Maret 2011

PTK MENDONGENG


 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah


Menurut konsep Alqur’an, manusia tersusun dari dua unsur,yaitu tubuh yang kasar dan roh atau jiwa yang halus dengan tubuhnya ia dapat bergerak dan merasakan sesuatu dan rohnya ia dapat mencapai sesuatu mengingat-ingat berfikir , mengenal , berkehendak , memilih , mencintai atau membenci.
Menurut Sabiq  bahwa masing – masing tubuh dan jiwa itu memiliki penegak dan kegemaran, lebih lanjut beliau menyatakan :
“Penegak serta kegemaran tubuh ialah makan, minum dan segala macam syahwat materi kelezatan-kelezatan yang dapat dirasakan , sedang penegak dan kegemaran jiwa ialah keimanan kepada Allah , melaksanakan perintah-perintahnya , memiliki sifat-sifat keutamaan yang denganya itu dapatlah manusia tadi mencapai suatu tingkat yang settings – tingginya perihal keluhuran budi dan kesempurnaan pendidikan’’.
Pada tubuh manusia perlu mendapatkan latihan – latihan dimana dalam Islam ibadalah yang memberikan latihan pada jiwa . Semua ibadah dalam Islam bertujuan membuat jiwa manusia selalu ingat kepada Allah , bahkan selalu dekat kepadanya . Diantara ibadah – ibadah yang ada , ibadah sholatlah yang membawa manusia dekat kepada Allah , sesuai dangan fitrah kelahiran manusia
Pada anak Usia  dini usia, saat-saat yang penting dan sangat mendasar untuk membentuk karakter anak yang sesungguhnya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh guru agar anak pada usia dini bisa berkembang dengan baik. Kesenangan anak pada saat adalah anak diajak bernyanyi, menirukan gerakan-gerakan tertentu, serta diajak berkonsentrasi mendengarkan dongeng dari seorang guru.
 Orang tua sangat besar peranya dalam mendidik anak, terutama pada anak-anak sejak kecil. Mendidik anak sejak dini sangat menentukan bagaimana perkembangan kedewasaan anak. Sebagai orang tua apapun tingkah lakunya akan dilihat oleh anak dan dijadikan contoh perilaku anak,baik yang baik maupun yang buruk sekalipun. Karena pada dasarnya anak berumur dibawah lima tahun rasa ingin tahu dan belajarnya sangat tinggi. Daya ingat bagi anak dibawah lima tahun sangat tajam dan sebagai orang tua sudah layaknya memberikan cotoh dalam kehidupan sehari-hari pada kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh bila orang tua suka membaca, atau suka menulis atau suka berolah raga atau suka menonton film-film barat dan sebagainya,si anakpun cenderung akan mencontohnya. Karena itu berbanggalah orang tua bila bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti tersebut diatas sebagai contoh, nantinya akan menanamkan jiwa pada diri anak untuk suka menulis,menggambar,membaca dan lain-lain.
Pepatah menyatakan “Anak adalah titipan dari yang kuasa” seperti juga pujangga besar Khalil Gibran, dalam sebuah puisinya yang sangat popular menyebutkan”…. Mereka adalah putra putri kehidupan. Dari kita mereka ada…tetapi mereka bukanlah milik kita…..dst .
Sesungguhnya, setiap manusia (anak atau dewasa), memiliki hak-hak yang melekat sejak dia menghirup oksigen di muka bumi ini. ”. Ironisnya, banyak orang tua yang sering memperlakukan anak-anak mereka dengan semena-mena, otoriter, dengan anggapan, sampai kapanpun anakku adalah anak-anak, yang harus menuruti segala kehendak orang tua. Walaupun yang disebut anak itu mungkin saat ini telah memiliki anak-anak mereka sendiri.
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, maka mendidik anak adalah seni kehidupan yang sangat unik dan spesifik.
Setiap hari menyaksikan ulah anak-anak, dan begitu kenakalan terjadi, hati dan pikiran kita bereaksi, mau diapain anak ini? Cukup diberi pengertian? Atau diperingatkan keras? Atau harus dicubit? Atau …..?
Saat itulah kita siap memvonis bagai seorang hakim. Maka, emosi, kebijaksanaan dan wawasan berpikir sebagai orang tua sangat menentukan, apakah anak merasa diperlakukan secara wajar dan adil oleh orang tuanya terhadap ulah mereka.
Mendongeng atau story telling ternyata dapat dijadikan sebagai media membentuk kepribadian dan moralitas anak usia dini. Sebab, dari kegiatan mendongeng terdapat manfaat yang dapat dipetik oleh pendongeng (orangtua) beserta para pendengar (dalam hal ini adalah anak usia dini). Manfaat tersebut adalah, terjalinnya interaksi komunikasi harmonis antara oran gtua dengan anaknya di rumah, sehingga bisa menciptakan relasi yang akrab, terbuka, dan tanpa sekat.
Ketika hal itu terpelihara sampai sang` buah hati menginjak remaja, tentunya komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak akan menjadi modal penting dalam membentuk moral. Karena kebanyakan ketika mereka beranjak remaja atau dewasa, tidak mengingat ajaran-ajaran moral diakibatkan tidak adanya ruang komunikasi dialogis antara dirinya dengan orang tua sebagai “guru pertama” yang mestinya terus memberikan pengajaran moral. Jadi, titik terpenting dalam membentuk moral sang anak adalah lingkungan sekitar rumah, setelah itu lingkungan sekolah dan terakhir adalah lingkungan masyarakat sekitar.
Namun, ketika dilingkungan rumahnya sudah tidak nyaman, biasanya anak-anak akan memberontak di luar rumah (kalau tidak di sekolah, pasti di lingkungan masyarakat). Oleh karena itu, agar tidak terjadi hal seperti itu sudah sewajibnya orang tua membina interaksi komunikasi yang baik dengan sang buah hati supaya di masa mendatang ketika mereka memiliki masalah akan meminta jalan keluar kepada oran g tuanya.
Upaya preventif agar tidak terjadi pemberontakan dari sang buah hati terhadap tatanan moral yang berlaku, adalah dengan membudayakan kembali dongeng sebelum tidur. Tentu saja, kisah yang didongengkan itu harus berisi panduan hidup yang berbasis pada filsafat hidup dan nilai moral yang visioner dan positif bagi perkembangan hidupnya di masa depan. William Pakpahan mengatakan bahwa pengetahuan moral bisa diajarkan di rumah, caranya dengan membahas buku-buku dongeng, kitab suci, dan menceritakan kisah yang konstruktif bersama anak.
Mendongeng bagi anak usia dini sangatlah penting. Karena dengan mendongeng anak bisa merekam dalam otaknya tentang kisah-kisah tertentu serta kejadian-kejadian yang telah terjadi, memberikan pesan moral serta bisa menguatkan kekuatan memori otak anak. Semakin dini anak diberi dongengan semakin cepat terbentuknya meningkat kemampuan otak dalam meningkatkan kejeniuasan anak.
Aktivitas mendongeng atau story telling memang telah jadi budaya di negeri kita selama ratusan tahun lamanya. Ini dibuktikan dengan adanya legenda, misalnya di tatar Sunda, kita mengenal Sasakala Situ Bagendit, Sasakala Tangkuban Parahu, sakdang kuya jeung sakadang monyet dan masih banyak lagi. Bukti tersebut mengindikasikan bahwa telah sejak dahulu kala, nenek moyang kita melakukan kegiatan mendongeng kepada anak-cucunya agar tertanam nilai moral sejak usia dini. Dan, biasanya dongeng yang lebih berpengaruh kepada anak-anak adalah kisah-kisah keteladanan yang berkaitan dengan dunia anak yang imajinatif.
Merrill Hermin dalam bukunya berjudul How to Plan a Program for Moral Education (1990) berpendapat bahwa bercerita atau mendongeng memungkinkan orang berbicara tanpa memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Sebab setiap pendengar memiliki kebebasan untuk setuju atau tidak setuju dan akan berusaha menempatkan posisinya di mana ia mau dalam cerita itu.
Selain itu, cerita atau dongeng bisa menjadi wahana untuk mengasah imajinasi dan alat pembuka bagi cakrawala pemahaman seorang anak. Ia akan belajar pada pengalaman-pengalaman sang tokoh dalam dongeng tersebut, setelah itu memilah mana yang dapat dijadikan panutan olehnya sehingga membentuknya menjadi moralitas yang dipegang sampai dewasa. Karena itulah, peran pendongeng atau oran g tua dalam menjelaskan atau merangkum seluruh kisah dalam cerita kepada anak-anak mesti menjadi seorang penjelas yang pasih. Alhasil, seorang anak akan mengerti intisari dari cerita yang didongengkan tersebut.
Maka, agar tidak terjadi penanaman bibit moral yang paradoksal, orang tua selayaknya memberikan penafsiran secara rasional, konstruktif, dan tidak terjebak pada pengisahan yang klenik. Selain itu, sebaiknya kegiatan mendongeng juga dilakukan sebelum seorang anak hendak tidur, supaya sang anak bisa lebih menyerap materi cerita yang berisi keteladanan sang tokoh dalam cerita itu.
Misalnya, ketika kita menceritakan sasakala Situ Bagendit, menyelipkan ajaran moral bahwa memberi kepada yang membutuhkan atau fakir miskin itu merupakan keniscayaan. Tujuannya agar seorang anak dapat membentuk kepribadiannya secara positif dan menentang kekikiran (kaceuditan) Nyi Endit sehingga menyebabkan ia dan kekayaannya ditenggelamkan oleh air.
Pertanyaannya, sudahkah malam ini atau malam tadi kita membacakan dongeng yang berisi keteladanan kepada sang buah hati? Semoga saja kita memiliki dongeng sebelum tidur yang bermutu dan bisa membentuk moral anak kita.
Dunia anak yang sejatinya adalah dunia bermain, telah terampas oleh beban kehidupan yang terlalu rumit. Sehingga, anak tidak lagi menemukan gerak perkembangan yang normal. Anak telah dipaksa untuk berada di luar garis kemampuannya. Maka, dapat dibayangkan, kemampuan anak yang masih belia mesti menanggung derita dan beban hidup yang di luar kadarnya. Selain berbagai kasus yang menimpa dan menyeret anak dalam pertarungan kelas tinggi, terputusnya transformasi nilai-nilai sosial budaya kita juga sangat berperan dalam membentuk dunia anak yang gamang dan gelisah. Budaya dongeng sebelum tidur yang digerus parade sinetron, permainan anak yang digantikan oleh menu game, secara tidak langsung pula menggiring anak pada kegagapan untuk memahami dan mengenali dirinya sendiri dan lingkungannya. Lebih jauh, di kalangan masyarakat kita, masih belum begitu peka terhadap kondisi dunia anak. Dunia pendidikan yang diharapkan menjadi wahana penetralisir bagi kesuntukan anak, tidak jarang hadir menjelma penjara. Bahkan tidak jarang pula, anak menjadi modal dunia pendidikan kita untuk mengeruk keuntungan.

Selain itu mendongen juga membangun perbendaraan kata dan makna yang harus dimulai saat-saat anak pada usia dini. Atau anak-anak pada usia Taman Tanak-Kanak (TK). Kebiasaan ini akan menggeliak rasa haus si anak untuk belajar. Selain itu sianak juga bisa memperkaya khasanah kata-kata baru yang menambah pemahamannya, sekaligus memberi nilai tambah bagi si anak.
Kontak dengan mendongeng, membangun kemampuan berfikir yang super. Kemampuan anak akan terus meningkat. Semua anak hanya bisa memperoleh pengalaman dengan jalan ontak dengan teman-temannya sekarang ada dunia baru untuk mengembangkan potensi anak. Disamping itu, mendongeng juga bisa memberikan motivasi kepada anak-anak tertentu yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan memahami betapa penting pendidikan mendongen bagi anak-anak Kanak-Kanak (TK) atau anak pada tahap usia dini maka penulis terdorong untuk membuat karya tulis dengan judul “ PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF MELALUI METODE MENDONGENG PADA ANAK KELOMPOK BERMAIN TAMAN AISYIYAH BULUBRANGSI KEC. LAREN KAB. LAMONGAN TAHUN PELAJARAN 2010 - 2011. Dengan harapan bisa memberikan kontribusi positif bagi lemabaga pendidikan dan khususnya  anak-anak pada masa Taman Kanak-Kanak


B.     Identifikasi Masalah.


Identifikasi masalah merupakan suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah, dimana suatu oyek dalam jalinan situasi tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah. Dalam Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh peneliti adalah mampukah metode mendongeng untuk meningkatkan minat belajar anak didik? Mungkinkah pendidikan mendongeng diterapkan pada masa sekarang ini?

C.    Batasan Maslah


Agar dalam penelitian ini terfokus pada bidang garap peneliti dan tidak mengembang yang begitu jauh sehingga menyimpang dari gagasan utama maka dalam penelitian ini peneliti batasi sebagai berikut : Mendongeng disini hanya dilakukan di dalam kelas/ Pada Kelompok Bermain Taman Aisyiyah Bulubrangsi Kec. Laren Kab. Lamongan, selain itu kami hanya meneliti hubungan antara mendongeng dalam upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak.

D.    Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut diatas maka penulia dapat merumuskan suatu permasalahan sebagai berikut :
1.      Apakah metode mendongeng bisa meningkatkan kemampuan kognitif anak Kelompok Bermain Bulubrangsi Laren Lamongan ?
2.      Masih relefankah metode mendongeng diterapkan mada masa sekarang ini terutama pada anak Kelompok Bermain Bulubrangsi Laren Lamongan?
E.     Spesifikasi Variabel
Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dengan judul Pentingnya Metode Mendongeng Dalam Upaya peningkatan Minat Belajar pada anak usia Dini (PAUD) Kelompok Bermain Bulubrangsi Laren Lamongan tahun pelajaran 2010/2011, terdapat dua variabel yakni : 1. variabel bebas (independent) dalam hal ini adalah mendongneg. 2. variabel terikat (dependent) dalam hal ini adalah kemampuan kognitif .

F.     Definisi Operasional

1. Mendongeng : Menceritakan kembali cerita-cerita yang telah terjadi. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka)

2. Kemampuan Kognitif anak : Kemampuan anak dalam menyusun kata, merangkai kata, menyusun suatu benda membedakan bau, rasa, dll. ( Robert T)


G.    Tujuan Penelitian

Dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, penulis mempunyai tujuan yaitu :
1. Ingin mengetahui pentingnya metode mendongeng bagi peningkatan kemampuan kognitif anak Kelompok Bermain Taman Aisyiyah Bulubrangsi Laren Lamongan.
2.  Ingin mengetahui relefansi metode mendongen pada saat sekarang ini

H.    Kegunaan Penelitian

1. Untuk Lembaga : dapat dijadikan masukan bagi kegiatan penelitian dalam merumuskan kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan mutu pendidikan
2. Sebagai bahan masukan bagi peneliti berikutnya untuk pengembangan penelitian dibidang yang sama

















BAB II.
LANDASAN TEORI

A.    KEAJAIBAN MENDONGENG
Pengertian Mendongeng: Menceritakan kembali cerita-cerita yang telah terjadi. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka)
“Yang Paling Indah pada masa kanak-kanak adalah ( Seolah-olah) semuanya merupakan sebuah keajaiban” (G.K. CHESTERTON)
Mendongen merupakan batu loncatan penting dalam membentuk seorang jenius. Mendongeng memicu kekuatan berpikir yang super, yang melpaskan per-per imajinasi seorang jenius. menurut ahli psikologi anak, pertumbuhan mental seorang anak berjalan sangat cepat, terutama sampai anak berusia enam tahun, sampai umurnya enam tahun, kecepatan belajar anak bagai kuda yang berlomba dalam pacuan. Setelah melewati usia ini, kecepatan belajar anak akan menurun, dan lebih mendatar.
Sebelum pendidikan si anak dikemas dalam bentuk formal, orang tua, atau kakek dan nenek, biasanya menjadi guru si anak. Dahulu kala, pendidikan, secara tidak langsung, tetapi dengan cara yang sangat bermakna, diterapkan melalui mendongeng. Sekelompok anak-anak akan duduk mengelilingi api unggun, dibawah sebatang pohon, dan seorang dewasa akan menceritakan sesuatu yang sangat memikiat, dan menarik perhatian. Kemudian, tulisan mulai memberikan pengaruh pada literatur lisan tradisional ini.
Mendongeng memiliki elmen penting dan vital bagi kuncup-kuncup jenius. Sampai anak berusia enam tahun, pola otak secara alami menyebabkan anak memiliki rasa ingi tahu untuk menjelajahi semua hal yang ada disekitarnya. Rasa ingi tahu yang seakan tak bisa terpuaskan. Anak akan mempelajari muka anda beraba-raba pipi, mata, hidung, dan mulut Anda dengan jarinya yang mungil. Kemudian dia akan melakukan yang sama pada dirinya.
Karena itu, mendongeng merupakan sebuah keharusan dalam pembentukan seorang jenius. Kekuatan mendongeng tidak boleh diremehkan. Cerita anak biasanya ditulis oleh orang-orang dewasa, yang memahami dunia anak-anak. Cerita –cerita itu memiliki kekuatan yang tidak dapat dilihat, tetapi benar-benar nyata, yang membantu anak membuka dunia yang penuh semangat, keriangan dan kegembiraan.
Memilih bacaan untuk anak di tengah-tengah lautan buku bacaan yang dewasa ini demikian melimpah ruah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bila dihadapkan dengan buku-buku bacaan hasil terjemahan, entah itu berupa komik, cerita pendek, atau novel.
Dalam upaya menumbuhkembangkan daya intelektual anak lewat bacaan, orang tua mempunyai peran yang cukup penting. Orang tua harus menjadi pembaca pertama buku-buku yang kelak akan dibaca anak.


Ada baiknya orang tua bertindak arif dan bijaksana. Antara lain membelikan anak sejumlah buku bacaan yang sarat dengan muatan lokal. Dongeng-dongeng yang pernah dilisankan oleh orang tua kita menjelang tidur, saat ini sudah banyak yang dibukukan. Entah itu berupa cerita rakyat dari Jawa Barat, seperti Dalem Boncel, atau cerita fabel seperti Si Kancil, dan sebagainya.
Bacaan-bacaan yang sarat dengan pesan keagamaan, juga bisa dijadikan pilihan di luar cerita-cerita yang sepenuhnya hanya berpihak pada persoalan sosial atau kemanusiaan. Untuk menumbuhkan imajinasi di kepala anak, orang tua atau guru perlu memiliki teknik mendongeng yang baik. "Tapi jangan mundur karena kurang menguasai teknik.
Syarat utamanya adalah percaya diri dan komunikatif. Banyak orang tua tidak percaya diri ketika mendongeng, akhirnya pesan dongengnya sulit ditangkap anak. Anak jadi boring, sementara orang tua sendiri terlanjur hopelles untuk meneruskan mendongeng. Mendongeng bisa dimulai dengan mengaktifkan indra yang kita miliki untuk membantu memvisualisasikan cerita. Kemudian untuk menggali cerita bisa mengungkap kejadian sehari-hari, masalah biasa kita temui bukan? Dan untuk memotivasi diri, tanamkan keyakinan bahwa setiap orang biasa menyampaikan segala sesuatu yang ada dipikirannya,



B. MANFAAT MENDONGEN UNTUK PENINGKATAN KOGNITIF ANAK
Menurut Shakuntala Devi, dalam bukunya “Bangunkan Kejeniusan Anak Anda” ada beberapa manfaat mendongeng bagi anak, diantaranya adalah :
1. Memicu kekuatan berfikir
Semua cerita yang baik, memiliki alur yang baik. Alur cerita anak-anak sebaiknya sederhana, karena karakter atau alur cerita yang terlalu rumit, akan membuat anak bingung. Sebuah dongeng sebaiknya membawa pesan moral berisi harapan, cinta, dan keberhasilan, tanpa mengguruhi. Tujuan utama pendongeng yang baik adalah menceritakan dongeng yang baik. Sebuah cerita harus bisa, secara sederhana tetapi efektif, mendorong rasa ingin tahu. Apa yang terjadi kemudian ? Kemana dia pergi ? Apa yang dilakukan ? Ketika cerita berlanjut, anak akan terbawa oleh arus dan kegairahan cerita. Kemudian, ketika cerita mencapai puncaknya, anak akan gembira. Kemungkinan besar, ia akan meminta Anda menceritakan kembali cerita yang sama, berulang-ulang. Dia sudah tahu, bagaimana ceritaberakhir tetapi itu tidak akan mengurangi minatnya. Segerah saja, anak akan memperbaiki apabila anak melakukan kesalahanya. Dia akan melakukan apa yang terjasi selanjutnya. Anak anda akan tumbuh dan berkembang, bersama dongeng yang didengarkan. Dongeng merangsang dan menggugag kekuatan berfikirnya.


2. Menciptakan Kebangkitan Visual
Apa yang terjadi apabila Anda mennton bioskop? Layar bioskop akan terisi warna-warna dan gerakan-gerakan. Gambaran visual yang jelas dari karakter-karakter yang seolah-olah hidup, secara total berhasil menarik perhatian Anda. Mendongeng mempunyai efek yang sama, dengan perbedaan besar-perbedaan penting, yang merupakan keharusan bagi jenius kecil yang sedang berkembang. Kata-kata kuat yang penuh makna dan kaya arti, memutar bioskop di dalam otak si anak. Dalam mata pikirannya, anak melihat berkelebatnya gambar-gambar yang yang amat jelas. Rurdyard Kippling, penulsi dan penyair Inggris, mampu menciptakan gambaran gaib ini melalui prosa-prosanya yang kaya dan memikat, seperti yang tercermin didalam kalimat : Suara lecutan cambuk sapi, dan geritan roda kereta, suara api yang dinyalakan, dan makanan yang dimasak. Seorang anak bisa segerah membayangkan, suasana yang hidup dan sibuk disebuah perkemahan. Disamping itu, kreativitas anak akan terbangun oleh berbagai kemungkinan visual.

3. Mengaitkan Kata-Kata dengan Gambar
Saat mendongeng, bakat akrobatik suara Anda akan sangat berguna! Bagaimana menirukan suara orang tua yang lemah dan bergetar, auman seekor singa, suara monyet yang gugup dan melengking, …. Pebdeknya, Anda berusaha menghidupkan kata-kata yang dipilih si pengarang dengan sangat cermat. Selain kegembiraan dan kesenangan dalam mendengarkan, Anda juga mengasah pendengaran anak terhadap nuansa bunyi-bunyian. Kata-kata bisa jadi sangat mengagumkan apabila diucapkan dengan intonasi, dan ekspresi yang berbeda. Anda bahkan bisa menambah dengan gerakan pantonim sesuai dengan kejadian-kejadian di dalam cerita. Cara ini akan menarik anak, dan menambah elemen kegembiraan ke dalam proses pendidikan bunyi-bunyian memperdalam rasa visual, memberi dimensi tambahan pada bioskop di dalam diri anak.
4. Memupuk Pengertian terhadap Orang Lain
Anda tentunya ingin jenius Anda memiliki banyak pengetahuan yang berguna agar dia bisa memahami orang lain. Itulah manfaat mendongeng. Tokoh-tokoh di dalam bukucerita akan terasa hidup, apabila dibumbuhi kemampuan kemampuan membaca Anda yang mengagumkan. Anak akan bisa membedakan tokoh yang satu dari yang lain, bahkan mengenali ciri dari masing-masing tokoh. Setiap tokoh akan menjadi temannya. Barangkali dia lebih menyukai tokoh yang satu dibanding dengan tokoh yang lain. Tidak ada salahnya. Tetapi, sejak usia muda, anak akan memehami adanya perbedaan sifat. Bagi dia, tokoh-tokoh itu hidup, dan sama nyatanya seperti anda, orang tuanya. Dengan memahami tokoh-tokoh tersebut, anak akan memahami dirinya. Ini merupakan tahap dari proses pertumbuhan. Apabila pikirannya mampu membeda-bedakan, anak Anda akan menerima kenyataan, bahwa menyet yang nakal berbeda dengan singa yang garang. (Bangunkan kejeniusan anak anda : 71 – 78)

B.     CARA  MENDONGEN YANG EFEKTIF
Mendongeng tidaklah aktivitas dan pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang dengan muda bisa mendongen. Sebab dalam mendongen diperlukan kiat-kiat khusus dan formula tertentu. Tetapi tidak hanya orang yang punya bakat mendongen yang bisa mendongen. Sebab sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya serba mungkin begitu pula Anda juga bisa dengan muda mempraktekkan dongeng kepada anak didik Anda. Ada beberapa kiat atau cara untuk mendongen yang efekti.

1.     Kuasai Alur Cerita.
Sangatlah mustahil seorang guru bisa mendongeng dengan baik dan dengan alur cerita yang berurutan manakala tidak menguasai atau memahami alur cerita. Alur cerita bisa Anda dapatkan atau anda kumpulkan dengan jalan membaca buku cerita yang banyak dan anda bisa hafalkan dan pahami alur cerita.

2.      Cari Waktu yang Tepat
Jika ingin dengan sukses mempraktekkan mendongeng maka harus bisa mencari waktu yang tepat. Dan tempat yang tepat pula, karena tidak dengan muda anak bisa menerima dongeng anda jika waktunya tidak tepat. Hal ini anda bisa mengaitkan kejadian-kejadin yang ada di alam sekitar anda. dan harus tahu kondisi anak saat itu.

3.      Praktek dengan Rutin
Praktek merupakan aplikasi dari teaori yang didapat. Segudang teori didapatkan tetapi tidak diprakttekan maka percumalah teori itu. Maka praktek merupakan 75 persen dari kegiatan.

C.    SEMBILAN LANGKAH AGAR DONGENG DITERIMA ANAK

Siapa saja bisa mendongeng, tidak ada yang tidak bisa. Mulai dari Presiden sampai pengemis. Bahkan, maaf, orang cacat pun terkadang lebih bisa mendongeng dari pada kita yang normal, tinggal bagaimana caranya masing-masing yang sesuai dengan kemampuannya. Tetapi untuk bisa mendongeng dengan baik dan menarik tentunya tidak mudah. Agar kita bisa mendongeng dengan baik dan menarik (menurut cara kak Rico) kiat-kiatnya antara lain adalah :
1. Berdoa.
Jangan lupa kita berdo'a terlebih dahulu sebelum kita mulai mendongeng karena ini paling penting dari yang lainnya. Sesiap apa pun kita mendongeng, sepintar apa pun kita mendongeng, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan hal yang satu ini. Dengan berdo'a terlebih dahulu yakinlah bahwa insya Allah kita akan berhasil mendongeng dengan baik. Amin

2. Mempersiapkan Cerita/Dongeng
Siapkan cerita yang akan kita sampaikan, bisa kita karang sendiri atau kita gunakan cerita karya orang lain. Dongeng/cerita disarankan antara lain :
·         Mudah kita kuasai
·         Dapat menghibur dan memikat perhatian anak-anak
·         Dapat mengembangkan imajinasi anak-anak
·         Edukatif/mendidik

3. Memiliki Rasa Malu Terhadap Diri Sendiri & Anak-anak
Idealnya dalam mendongeng, kita tentunya selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang ada dalam cerita kepada anak-anak. Oleh karena itu, sebaiknya kita juga harus punya rasa malu kepada diri sendiri dan anak bila diri kita sendiri tidak seperti apa yang kita nasehatkan kepada anak-anak.

4. Menyukai dan Menyayangi Anak-anak.
Pastikan bahwa kita menyukai dan menyayangi anak-anak, tanpa hal ini mustahil kita akan bisa mendongeng dengan baik. Sebab kalau kita sendiri kurang menyukai dan menyayangi anak, apa mungkin kita bisa sabar dan santun dalam menyampaikan cerita kepada anak-anak?

5. Mendalami dan Menghayati Cerita/Dongeng.
Sebelum kita sampaikan ke anak-anak, kita harus terlebih dahulu dapat mendalami dan menghayati cerita. Dengan mendalami dan menghayati cerita, kita akan dapat lebih hidup dalam menyampaikan alur-alur cerita dan lebih ekspresif dalam bertutur kata.

6. Gunakan Kata-kata Yang Mudah Dipahami Anak.
Rasanya kita tidak mungkin dalam mendongeng menggunakan kata-kata yang tidak mudah dipahami oleh anak. Misalnya saja kita menggunakan kata 'biografi', 'profesi', 'kompensasi', dan lain sebagainya. Lebih sangat tidak mungkin lagi kita mendongeng di depan anak-anak berkebangsaan lain dengan menggunakan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya.

7. Gunakan Karakter Suara Yang Sesuai Dengan Tokoh-tokoh Cerita.
Karakter suara pada setiap tokoh tentunya harus berbeda-beda dan sesuai dengan karakter tokoh masing-masing, sebab kalau tidak, kita tidak akan berhasil menyampaikan dongeng dengan baik. Contohnya, untuk memperagakan tokoh Nenek Sihir yang jahat tidak mungkin kita menggunakan karakter suara yang halus dan lemah lembut bak seorang peri yang baik hati.

8. Gunakan Alat Peraga.
Anak-anak biasanya akan tertarik sekali kalau kita mendongeng menggunakan alat peraga/properti. Alat peraga bisa saja berupa sebuah boneka atau benda-benda lainnya. Tetapi kalau kita tidak punya alat peraga, kita tetap dapat membuat anak-anak tertarik dengan dongeng dengan cara membuat gerakan-gerakan ekspresif, enerjik, dan jenaka.


9. Gunakan Ilustrasi Musik dan Efek-efekSuara.
Dongeng yang kita sampaikan akan menjadi lebih hidup bila diiringi dengan musik ilustrasi dan efek suara. Hal ini juga akan semakin mempermudah anak-anak berimajinasi dan terbawa emosinya.
D. Metode Mendongeng dapat Meningkatkan Minat Belajar
Dongeng mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama anak-anak. Maka dengan dongeng dapat memberikan daya stimulus dan minat belajar anak. (Y. Husnul,2009), mengatkana daya tarik anak sangat kuat ketika guru memberikan materi kepada anak melalui mendongeng.  Maka, bukan mustahil melalui ruang ini penulis menawarkan agar mendongeng dapat dimasukkan ke dalam salah satu metode pembelajaran
 Penulis berani menawarkan demikian, karena menurut konsep dan pengalaman penulis sendiri ketika menjadi tukang cerita , ternyata penyampaian suatu pesan pendidikan melalui sebuah cerita cepat meresap ke daya tangkap pikiran manusia. Apalagi, ketika sebuah cerita dihadapkan ke anak-anak usia sekolah. Kepala mereka sangat cepat berimajinasi mendegar atau melihat gaya seseorang saat bercerita. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan, dongeng dapat dijadikan sebagai salah satu metode pembelajaran pada anak usia dini usia


BAB III
METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

A.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan dalam dunia pendidikan. Aqip ( 2007 : 21 ) menyebutkan ada 4, yaitu : (1 ) Model Kurt Lewin, ( 2 ) Model Kemmis dan Mc Taggart, ( 3 ) Model John Elliot, dan ( 4 ) Model Dave Ebbut.
  Prosedur kerja Penelitian tindakan ini dilakukan dengan model rancangan daur ulang ( siklus ) seperti yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Adapun dalam penelitian ini dilakukan dalam siklus kegiatan, yaitu siklus 1 dan siklus 2. Masing-masing siklus terdiri dari  tahap kegiatan yaitu : ( 1 ) Penyusunan Rencana Tindakan, ( 2 ) Pelaksanaan Tindakan, ( 3 ) Melakukan Pengamatan, dan ( 4 ) melakukan Analisis dan Refleksi ( Kemmis dan Mc Taggart dalam Muhajir, 1996 ).

B.     Tempat dan Waktu Penelitian
a.      Tempat Penelitian.
Penelitiahn ini di laksanakan di Kelompok Bermain Taman Aisyiyah Bulubrangsi berada di kecamatan Laren Kabupaten Lamongan. Secara geografis Bulubrangsi terletak antara 60 51”54’-7023”06’ LS dan 112033”45’ - 112033”45’ – BT, dengan batas batas wilayah Sebelah utara  dengan Kecamatan Solokuro dan  sebelah Timur berbatasan dengan desa Brangsi, sebelah Selatan berbatasan dengan Bengawas Solo, sebelah  Barat berbatasan denganGodog.. Bulubrangsi beriklim tropis dengan tipe iklim C. Cura hujan rata-rata 3916,5 mm pertahun
b.      Waktu Penelitian
Penelitihan ini direncanakan mulai tanggal 1 Agustus s/d 30 September2010.Adapun lebih lengkap penelitian ini kami susun jadwal sebagai berikut:
JADWAL KEGIATAN
BULAN / MINGGU
Agustus
September
Ket.

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

A. Persiapan











- Pengajuan Judul











- Penyusunan Matrik











- Perijinan











B. Pelaksanaan











- penyusunan Instrumen











- Pengambilan data











- Analisa dan pengelolaan Data











C. Pelaporan











- Penyusunan Laporan











- Revisi












C. POPULASI DAN SAMPLING
1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak Kelompok Bermain Bulubrangsi Laren Lamongan, populsi ini dibatasi sejumlah Individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama ( Sutrisno Hadi).
2. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti atau objek yang diambil yang dapat mewakili populasi (prosedur penelitian Suharsini Arikunto) untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitianya merupaka penelitian populasi selanjutunya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10% -15% / 20% - 25% mengingat populasi dalam penelitian ini kurang dari 100 (hanya 25 siswa) maka populasi ini diambil keseluruan sebagai sampel dalam penelitian ini.

D. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hal ini dilakukan karena penelitian ini berusaha mendapat fakta yang riil dalam pembelajaran melalui metode mendongeng. Peneliti dalam penelitian ini langsung terjun ke sekolah / ke kelas untuk berinteraksi dengan siswa dan juga dewan guru, melakukan pengamatan dan interview.
Adapun sumber data utama dalam penelitian ini sebagai berikut :
a.       Tindakan anak didik / Siswa
b.              Seluruh dewan guru
c.               Buku Laporan hasil belajar siswa

E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilaksanakan dengan beberapa cara, antara lain:
  1. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan anak didik / siswa PAUD serta aspek-aspek yang berkaitan dengannya. Bahan-bahan literatur ini diteliti agar pemahaman peneliti tentang anak  menjadi Luas yang nantinya akan menjadi bahan awal dan bekal (repertoar) peneliti dalam observasi  dan interview.
  1. Observasi
 Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi riil anak Paud Aisyiah Bunga Harapan  untuk pengujian terhadap data yang diperoleh dari studi literatur. Dalam hal ini, peneliti mengamati segala hal yang mempunyai sangkut-paut dengan minat belajar anak di sekolah
  1. Wawancara.
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara baku terbuka yang berupa seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-kata dan cara penyampaiannya pun sama untuk setiap subjek penelitian, yaitu Guru, anak didik, dan juga orang tua
F. Analisa Data
Proses analisis data dimulai dengan menelaah data yang diperoleh dari beberapa sumber. Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan selama peneliti masih berada di lokasi penelitian, yaitu Kelompok Bermain Taman Aisyiyah dari saat seluruh data yang dihasilkan telah terkumpul sampai akhir penelitian. Artinya analisis data dilakukan secara terus-menerus dari awal sampai akhir penelitian.
1) Analisis data selama pengumpulan
Pada tahap ini peneliti mewancarai informan yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan sebelumnya). Kepada informan tersebut peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berfungsi untuk merekam lalu menggali informasi dari para informan. Dalam kegiatan ini peneliti menelaah catatan-catatan lapangan yang dipergunakan untuk dikembangkan dalam rangkuman.

2) Setelah pengumpulan data
Setelah   data   terkumpul,    sebelum   diinterpretasikan   terlebih    dahulu memerlukan pemrosesan.  Dalam penelitian ini  menggunakan langkah- langkah:

a. Editing
Yaitu kegiatan memeriksa data yang terkumpul, apakah sudah terisi secara sempurna atau tidak, lengkap atau tidak, cara pengisiannya sudah benar atau tidak, yang belum lengkap atau belum benar cara
pengisiannya, dapat disisihkan (tidak ikut di analisis) atau menyempurnakan dengan jalan melakukan pengumpulan data ulangan ke sumber-sumber data bersangkutan.
b. Koding
Hasil interview, observasi dan dokumen perlu disusun dalam sistem koding. Suatu kode adalah singkatan atau simbol yang dipakai guna mengelompokkan kalimat atau kata-kata, bahkan juga paragraph dari fieldnote, sebagai usaha untuk mengklasifikan kata-kata (Sutopo, 1988 ; 44). Pemberian kode dilakukan dalam rangka pengklasifikasian kategori atau kelas-kelas dari jawaban atau informan yang terekam sehingga memudahkan proses berikutnya.
c. Mengambil Kesimpulan
Untuk menemukan makna dari data yang sudah dikumpulkan dalam pelaksanaannya  peneliti  mencoba  menarik  kesimpulan  berdasarkan pokok kajian yang diajukan.
G. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan   keabsahan   data   atau   temuan   dalam   penelitian   ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Kredibilitas
Untuk menjamin kredibilitas data, teknik-teknik yang digunakan adalah
a. Pengamatan
Selama penelitian berlangsung, penempatan dan penyusunan data dalam paparan yang sesuai dengan konteks terus dilakukan. Hal ini dilakukan agar aspek-aspek yang relevan yang sesuai dengan tema penelitian dapat diletakkan pada tempat yang tepat..
b. Triangulasi
Validitas data dapat dicapai melalui triangulasi dan tinjauan dari informan utama. Triangulasi tersebut terdiri dari:
1)      Triangulasi Data, yaitu peneliti berusaha mengumpulkan data yang sama dari beberapa sumber data.;
2)      Triangulasi peneliti, yaitu peneliti berusaha mengumpulkan data yang sama;
3)      Triangulasi Metodologis, yaitu    beberapa    metode    yang    berbeda    dipergunakan    untuk mengumpulkan data yang sama;
4)      Triangulasi teoritik, Yaitu beberapa teori dipergunakan untuk membahas data yang sama, dan
5)      Diskusi dengan teman sejawat, Diskusi merupakan metode umum untuk melakukan pemeriksaan sejawat. Peserta diskusi adalah sejawat yang memang benar-benar mengetahui latar dan objek penelitian yang dapat membantu menambah wawasan penelitian dan hasil dari diskusi ini diharapkan dapat membantu di dalam pemeriksaan keabsahan data.
2. Dependebilitas
Untuk menjamin mutu, penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif berdasarkan buku-buku yang relevan. Sedangkan untuk menjamin mutu proses penelitian ini, bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing tugas akhir cukup relevan.
3. Konfirmebilitas
Untuk memenuhi kualitas hasil penelitian ini, peneliti memilih data dan informasi yang paling relevan sedangkan penilaian keobjektifan penelitian ini sepenuhnya diserahkan serahkan kepada peneliti yang lainnya dengan berpatokan pada peneliti sejenis yang mungkin pernah dilakukan.














BAB IV
HASIL  PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah terjadinya kegiatan pembelajaran dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan mendongeng ternyata minat  belajar lebih optimal. Penguasan teknis penggunaan metode mendongeng akan meningkatkan kemampuan guru dalam menyampaikan pesan moral kepada anak. Metode mendongeng secara optimal akan mengurangi verbalisme sehingga siswa lebih baik penguasaan materi pembelajaran serta minat belajarnya akan meningkat
Pelaksanaan CAR ini dilaksanakan sampai 2 siklus dengan rincian sebagai berikur :
A. SIKLUS 1
1. Perencanaan
a.       Menetapkan bahan mendongeng yang difokuskan pada kemampuan Kognitif, penguasaan terhadap kemampuan menangkap bahasa, pemberian nilai-nilai ke-Islaman serta difekuskan pada penanaman akhlaqul karimah.
b.      Pembelajaran tahap 1: guru melakukan apersepsi selama 5 menit, dilanjutkan dengan pemberian judul mendongeng siswa disuruh memilih judul dongeng yang sesuai dengan keinginan siswa .
c.       Pembelajaran tahap 2 : Guru memulai mendongeng sesuai dengan judul yang dipilih oleh siswa. Siswa disuruh tenang dan menyimak dongeng yang diceritakan oleh guru.
d.      Pembelajaran tahap 3 : Guru menyuruh siswa untuk menceritakan kembali isi dongeng yang diberikan oleh guru.
2. Pelaksanaan
2.1  Guru melakukan proses pembelajaran Pendahuluan yang meliputi : Apersepsi, motivasi dan menyampikan tujuan pembelajaran. Pada waktu apersepsi guru bertanya pada siswa  tentang contoh-contoh dongeng, menyuruh siswa untuk tampil kedepan untuk bercerita tentang pengalaman pribadi.
2.2  Pada kegiatan inti :
a. Untuk pembelajaran tahap 1 guru langsung menyuruh siswa untuk bercerita langsung kedepan tentag apa-apa yang telah diceritakan oleh guru. Guru mengamati kemampuan kognitif,
b. Untuk Pembelajaran. tahap 2 guru langsung memberikan kesempatan siswa untuk mengambil kesimpulan tentang dongeng yang talah diberikan oleh guru. Guru senantiasa mengamti minat siswa dalam belajar.
c. Untuk pembelajaran. tahap 3 guru menyuruh siswa untuk menyebutkan beberapa jenis warna, tentang baud an rasa, sesuai dengan dongeng yang diberikan oleh guru. Kemampuan kognitif selalu diperhatikan oleh guru
3. Observing
Dalam pelaksanaan CAR (Classroom action research) guru sebagai peneliti senantiasa memperhatikan minat belajar siswa selama pelaksanaan pembelajaran dalam hal ini guru menggunakan metode mendoneng sebagai implementasi metode pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini (PAUD)
4. Evaluasi dan refleksi
Berdasar pelaksanaan dan pengamatan didapat hasil sebagai berikut :
Tabel. 1 : Rekapitulasi hasil Classroom Action research pada siklus 1
No
Aktivitas yang di amati
Persentase
1
mengelompokkan benda yang sama dan sejenis
75 %
2
menyebutkan 4 bentuk(lingkaran, bujur sangkar, segi tiga, segi panjang)
65 %
3
membedakan besar-kecil, panjang-pendek (2 dimensi)
 60 %
4
Membedakan rasa
75 %
5
membedakan bau
70 %
6
menyebutkan bilangan 1-10 tanpa mengenal konsep
35 %
7
pengelompokan warna (lebih 5 warna) dan menyebutkan warna
75 %

Berdasakan hasil di atas maka dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas  yang di capai pada siklus 1 belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, yaitu 85% minat siswa dalam belajar dan proses pembelajaran. Ketidak berhasilan  tersebut disebabkan karena ada beberapa permasalahan yang muncul yaitu:
Masalah
Penyebab
1.Siswa nampak ragu-ragu dalam mengemukakan pendapatnya
Metode mendongeng belum  melekat dan belum difahami oleh siswa sebagai metode pembelajarn 
2.Siswa kurang siap menerima dongeng yang diberikan oleh guru
Siswa belum memahami isi dongeng 
3.Siswa kurang percaya diri akan kemampuan dalam mengemukakan pendapat sehingga siswa nampaknya masih ingin ditunjuk oleh guru.
Siswa belum terlatih dan terbiasa untuk tampil kedepan secara mandiri
Karena hasil yang dicapai belum sesuai dengan indikator keberhasilan serta minat belajar siswa masih rendah maka guru sebalagai peneliti pada penelitian tindakan kelas kali ini maka akan dilanjutkan pada siklus kedua dengan harapan bisa mencapai target yang telah dicanangkan oleh guru.
A. SIKLUS KE 2
1. Perencanaan
Pada siklus ke dua metode yang dunakan oleh guru tetap sama dengan siklus yang kesatu karena peneliti beranggapan bahwa ketidakberhasilan pada siklus ke 1 hanya karena kurang terbiasanya siswa dalam menerima metode mendonngeng
a.       Menetapkan bahan mendongeng yang difokuskan pada kemampuan Kognitif, penguasaan terhadap kemampuan menangkap bahasa, pemberian nilai-nilai ke-Islaman serta difekuskan pada penanaman akhlaqul karimah.
b.      Pembelajaran tahap 1: guru melakukan apersepsi selama 5 menit, dilanjutkan dengan pemberian judul mendongeng siswa disuruh memilih judul dongeng yang sesuai dengan keinginan siswa .
c.       Pembelajaran tahap 2 : Guru memulai mendongeng sesuai dengan judul yang dipilih oleh siswa. Siswa disuruh tenang dan menyimak dongeng yang diceritakan oleh guru.
d.      Pembelajaran tahap 3 : Guru menyuruh siswa untuk menceritakan kembali isi dongeng yang diberikan oleh guru.
2. Pelaksanaan
2.1  Guru melakukan proses pembelajaran Pendahuluan yang meliputi : Apersepsi, motivasi dan menyampikan tujuan pembelajaran. Pada waktu apersepsi guru bertanya pada siswa  tentang contoh-contoh dongeng yang mendidik dan dongeng yang kurang mendidik
2.2  Pada kegiatan inti :
a. Untuk pembelajaran tahap 1 guru langsung menyuruh siswa untuk bercerita langsung kedepan tentag apa-apa yang telah diceritakan oleh guru. Guru mengamati kemampuan kognitif, minat siswa dalam pembelajaran,
b. Untuk Pembelajaran. tahap 2 guru langsung memberikan kesempatan siswa untuk mengambil kesimpulan tentang dongeng yang talah diberikan oleh guru. Guru senantiasa mengamti minat siswa dalam belajar.
 c. Untuk pembelajaran. tahap 3 guru menyuruh siswa untuk bercerita secara bebas dengan judul yang dikuasai olehanak, guru tetap mengamati kogniif anak
3. Observing
Pada siklus ke 2 ini peneliti tetap berpedoman pada metode CAR (Classroom action research) guru sebagai peneliti senantiasa memperhatikan minat belajar siswa selama pelaksanaan pembelajaran dalam hal ini guru menggunakan metode mendoneng sebagai implementasi metode pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini (PAUD)
4. Evaluasi dan refleksi
Berdasar pelaksanaan dan pengamatan didapat hasil sebagai berikut :
Tabel. 2 : Rekapitulasi hasil Classroom Action research pada siklus 2
No.
Aktivitas yang di amati
Persentase
1
mengelompokkan benda yang sama dan sejenis
90 %
2
menyebutkan 4 bentuk(lingkaran, bujur sangkar, segi tiga, segi panjang)
90  %
3
membedakan besar-kecil, panjang-pendek (2 dimensi)
85 %
4
Membedakan rasa
90 %
5
membedakan bau
90  %
6
menyebutkan bilangan 1-10 tanpa mengenal konsep
85 %
7
pengelompokan warna (lebih 5 warna) dan menyebutkan warna
85 %

Berdasakan hasil di atas maka dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas  yang di capai pada siklus 2 sudah  memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, yaitu 86% minat siswa dalam belajar dan proses pembelajaran. Padahal target yang inging dicapai dalam pembelajaran hanya 85 %. Dibawah ini kami paparpan faktor keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini
Indikator keberhasilan
Penyebab
1.Siswa sudah tidak ragu-ragu dalam mengemukakan pendapatnya
Metode mendongeng sudah  melekat dan tidak asing lagi bagi siswa sebagai metode pembelajarn 
2.Siswa sudah siap menerima dongeng yang diberikan oleh guru
Siswa sudah memahami isi dongeng 
3.Siswa sudah percaya diri akan kemampuan dalam mengemukakan pendapat sehingga siswa tanpa  ditunjuk oleh guru sudah mau tampil kedepan.
Siswa sudah terbiasa untuk tampil kedepan secara mandiri
4.Minat  belajar secara umum sudah diatas standar
Siswa sudah paham betul tentang konsep-konsep pada materi yang diberikan oleh  guru

Karena hasil yang dicapai sudah sesuai dengan indikator keberhasilan serta kemampuan kognitif anak

sudah bagus maka guru sebalagai peneliti pada penelitian tindakan kelas kali ini maka peneliti tidak usah melanjutkan pada siklus berikutnya.









BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Mendongeng membuka "waduk" besar berisi energi dan gagasan kreatif, yang terkunci di dalam diri anak. Mendongeng seperti membuat apa dalam diri anak. Percikan api kecil itu merupakan percikan otak seorang jenius. Dia akan bersinar di dunia yang berisi kemungkinan-kemungkinan yang dahsyat.
Kontak dengan mendongeng, membangun kemampuan berfikir yang super. Kemampuan anak akan terus meningkat. Semua anak hanya bisa memperoleh pengalaman dengan jalan kontak dengan teman-temannya sekarang ada dunia baru untuk mengembangkan potensi anak. Diamping itu, mendongeng juga bisa memberikan motivasi kepada anak-anak tertentu yang membutuhkan perhatian khusus
Selain itu mendongeng juga bisa menumbuhkan gairah berfikir anak serta meningkatkan daya imajinasi terhadap alam sekitarnya.
Dari hasil penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a.       Metode mendongeng ternyata bisa meningkatkan minat belajar siswa ini terbukti dari prosentasi keberanian serta minat siswa dalam pembelajaran dari siklus 1 ke siklus 2 semakin meningkat.
b.      Metode mendongeng masih sangat relefan diterapkan pada saat ini untuk untuk penguasaan teori mendongeng perlu di kuasai oleh guru sebagai subyek pendidikan.
B.     Saran
1.      Kepada Guru.
Diharapkan guru bisa mempraktekan mendongen sesuai degan konsep-konsep mendongen yang benar tahu situasi dan kondisi anak,
Disamping itu guru harus memilih alur cerita yang baik sesuai dengan lingkungan dan alam anak berada dan sesuai dengan konteks pendidikan pada anak usia dini atau anak usia Taman Kanak-Kanak (TK)
2.      Kepada Orang Tua.
Orang tua  tidak serta merta harus 100 % percaya kepada Guru sebagai pendidik di lingkungan formal. Disamping guru orang tua juga harus punya andil yang besar terhadap perkembangan anak. Dan juga bisa mempraktekkan mendongen kepada anak terutama sewaktu anak akan berangkat tidur. Karena waktu itu merupakan waktu yang esensial bagi anak.




DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2007, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru, Bandung, Penerbit Rama YWidya.
           Dkk, 2007 Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc.


Herman RN, Mendongeng sebagai Metode Pembelajaran, harian Serambi Indonesia, 10 Juli 2007
Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.


Hamalik, Oemar. 1999. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Martini Jamaris, M.Sc. Ed. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak. Program PAUD PPS UNJ. Jakarta 2005
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta.

Rosmala Dewi, M.Pd. Berbagai Masalah Anak Taman Kanak-kanak. Departemen
Rico C. 9 Kiat mendongeng yang efektif, WWW. Kangguru. Com. 2009
Sitta R. M, Mendongeng yang efektif Harian Serambi Indonesia, 10 Juli 2007
    Pendidikan Nasional, Dirjen Dikti. Jakarta 2005
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Si Kancil Kena Batunya
articles: kancil1_1.gifAngin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan dihutan sambil membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata,"Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku". Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,"Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?". Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.
articles: kancil2_1.gif"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?". Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !. "Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam". Ujar si kancil. Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,"Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.
articles: kancil3.gifSetelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. "Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil," kata siput.
articles: kancil4.gifHari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan..... kancil sambil berseru,"Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.
Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,"Kancil memang tiada duanya." Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?". Ejek siput. "Tidak mungkin !", "Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru si kancil.
articles: kancil5.gif"Sudahlah akui saja kekalahanmu,"ujar siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya. "Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka", ujar siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.
Pesan Moral : Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita memang cerdas dan pandai.









Angkaro dan Tunturana
Dua kor kepiting, Angkaro dan Tuturana, bersahabat karib. Mereka tinggal bersama di pinggir laut, di balik bebatuan. Mereka bersembunyi karena takut pada orang-orang yang mencari ikan dan kepiting. Apabila laut pasang, mereka bermain tanpa takut akan ditangkap manusia.
Pada suatu malam, ketika bulan purnama, Angkaro dan Tuturana keluar menikmati keindahan alam.
” Sahabat, bagaimana kalau kita hiasi punggung kita agar kelihatan menarik ?” kata Angkaro.
”Bagus sekali idenya. Kita memang perlu mempercantik diri agar kelihatan menarik. Tapi, bagaimana caranya ? ” tanya Tuturana.
”Bagini.”sahut Angkaro, ”Kita lukis punggung kita dengan cat warna-warni yang menarik.”
” Wah, menarik sekali.Bagaimana kalau aku dulu yang dilukis. Boleh atau tidak ? tanya Tuturana.
”Baiklah.”kata Angkaro.
Angkaro mulai mengukir punggung Tuturana. Punggung Tuturana  dihiasi dengan bulatan-bulatan dari muka ke belakang, dan dari atas ke bawah. Lukisan itu sangat mempesona.
”Sudah selesai sahabat.”kata Angkaro.
Tuturana bercermin pada di air laut yang jernih.
“Bagus, bukan?”tanya Angkaro.
“Bagus sekali. Terima kasih sahabat.”kata Tuturana,
”Sekarang giliranku.”kata Angkaro.
Tiba-tiba air laut surut. Datanglah pencari ikan membawa obor. Kedua ekor kepiting itu pun terkejut. Berlarilah mereka untuk menghindari bahaya.
”Maaf, sahabat. Orang-orang sudah datang untuk menangkap kita. Tidak ada waktu lagi untuk melukis punggungmu.” kata Tuturana.
”Tidak punggungku harus kamu ukir !” teriak Angkaro.
Melihat obor-obor semakin dekat, Tunturana menggambari punggng Angkaro dengan dengan kuas dan cat tanpa bentuk. Punggung Angkaro sekarang penuh dengan garis tidak karuan karena tergesa-gesa hendak menyelamatkan diri.
Angkaro terpaksa menerima keadaan. Keduanya berkawan dalam bentuk yang amat berbeda: Tuturana cantik dan Angkaro jelek.
Sumber : Aku Cinta Bahasa Indonesia kelas IV , Tiga Serangkai
























Batu Menangis
Di sebuah bukit yang jauh dari desa, di daerah Kalimantan, hiduplah seorang janda miskin dan anak perempuannnya. Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, dia memiliki perangai yang buruk. Gadis itu amat malas, tidak pernah membantu ibunya bekerja. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.
Suatu hari, anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh sehingga mereka harus menempuh perjalanan yang jauh. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan dengan memakai pakaian yang bagus  dan bersolek agar dikagumi kecantiknnya. Sementara, ibunya berjalan di belakangnya sambil membawa keranjang dengan memakai pakaian yang dekil. Karena mereka hidup ditempat yang terpencil, maka tak seorang pun tahu bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.
Ketika mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Orang – orang terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama pemuda desa. Namun, saat melihat orang yang berjalan di belakang anak itu, sungguh kontras keadaannya. Hal ini membuat orang bertanya-tanya.
Diantara orang yag melihat itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu.
” Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?”
Namun apa jawaban gadis itu?
“Bukan, “katanya angkuh.” Ia adalah pembantuku.”
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekat lagi seorang pemudadan bertanya kepada gadis itu.
”Bukan, bukan.”jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budakku.”
Begitulah setiap ada seseorang yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya begitu. Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka itu, si ibu masih bisa menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawaban yang sama, akhirnya si ibu yang malang itu tidak dapat menahan diri. Si ibu berdoa :
”Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba tega memperlakukan hamba seperti ini. Ya Tuhan, hukumlah anak hamba! Hukumlah ....”
Atas kuasa Tuhan, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis dan memohon ampun kepada ibunya.
”Oh, Ibu.Ibu Ampuni saya, ampunilah kedurhakaan anakamu selama ini. Ibu...Ibu...Ampuni anakmu.”
Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi semua telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata., seperti sedang menagis.
Sumber  : Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara: Pustaka Agung Harapan
















Pogi yang Malang
Pogi adalah pemuda yang malas. Kerjanya hanya makan, tidur, dan bermain-main. Ayah dan ibunya tidak melarang sebab mereka adalah keluarga kaya. Apa saja kemauan Pogi selalu dituruti.
Suatu pagi, Pogi pergi bermain ke hutan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang pengembara yang membawa lima karung yang berat.
”Hai, pemuda ! Maukah kau menolongku membawa karung ini ke kota ? ”tanya  pengembara itu.
Pogi pura-pura tidak mendengar. Ia tetap berjalan perlahan sambil mengamati tumbuhan.
”Nak, aku akan memberimu salah satu dari kantong ini. Silahkan pilih!”
Pogi masih pura-pura tidak mendengar. Huh! Tadi minta tolong sekarang malah mau memberi karung. Paling-paling isinya Cuma sampah, bati Pogi.
” Anak muda, karungku yang bertali merah ini berisi ramuan obat segala penyakit, sedangkan yang bertali biru berisi bibit padi segala musim. Atau kamu mau karung dengan tali berwarna putih? Ini berisi kain sutera pilihan, yang bertali hijau berisi aneka macam penyedap masakan, dan yang berwarna kuning berisi emas permata. Nah, pilihlah salah satu!”
”Ah, baiklah.”kata Pogi semangat. ”Aku pilihyang berwarna kuning aja.”
”Apakah kamu yakin karung ini membawa keberuntungn bagimu?”
”Sangat yakin. Sudahlah, cepat berikan. Aku tidak sabar membawanya pulang .”omel Pogi .
Pengembara itu menyerahkan karung yng bertali kuning. Pogi langsung membawa karung itu pergi tanpa berterima kasih. Setelah agak jauh, dibukanya karung itu. Ah, betapa gembiranyaPogi saat melihat banyak emas di dalamnya. Pogi lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Tiba-tiba...
”Pokoknya kalau bertemu orang kaya, kita rampok saja.” kata salah satu orang.
Pogi yang mendengar suara itu, cepat-cepat bersembunyi. Setelah kedua orang itu berlalu, Pogi segera keluar dari persembunyiannya. Ia meneruskan dengan tergesa-gesa dan takut. Sampailah Pogi di tepi sungai. Di tempat penyeberangan itu tampak sepi. Hanya ada tiga penarik perahu.
”Sepi sekali hari ini.”ujar yang bertubuh paling kecil.
”Benar tidak seperti bisanya.” jawab yang berambut keriting.
”Bagaimana kalau kita rampok saja orang yang menyeberang dengan perahu kita ini ?” tanya yang bertubuh kekar.
Ketiga penarik perahu tertawa terbahak-bahak. Mendengar hal itu Pogi semakin ketakutan. Diambilnya jalan pintas. Pogi berenang menuju ke seberang sungai. Sesampainya di tengah sungai, seekor buaya menuju ke arahnya.
Tanpa ragu-ragu, Pogi memukul moncong buaya itu dengan karung yang dipanggulnya. Buaya itu malah membuka moncongnya. Pogi tak banyak berpikir. Dilemparnya karung berisi emas itu ke arah buaya. Lemparan tepat sekali. Buaya itu kesulitan mengunyah karung. Pogi merasa musuhnya lengah. Ia berenang ke tepian secepatnya.
Sejak kejadian itu, Pogi menjadi sadar., ternyata emas tidak mendatangkan keberuntungan baginya. Justru mendatangkan bahaya. Sejak itu Pogi menjadi rajin dan bijaksana.
                              
                            Sumber : Aku Cinta Bahasa Indonesia  kelas IV , Tiga Serangkai












Amir
Dahulu kala di Sumatra, hiduplah seorang saudagar yang bernama Syah Alam. Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir. Amir tidak uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan uang yang diberi ayahnya. Karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah memarahinya. Syah Alam hanya bisa mengelus dada.
Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. Banyak uang yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka jatuh miskin.
Penyakit Syah Alam semakin parah. Sebelum meninggal, Syah Alam berkata”Amir, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Engkau harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah dulu. Jangan kau gunakan waktumu sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah.Usahakan engkau terlihat oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari.”
”Ya, Ayah. Aku akan turuti nasihatmu.”                                       
Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga sakit parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan. Ia teringat nasihat ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat bulan. Oleh sebab itu, kemana-mana ia selalu memakai payung.
Pada suatu hari, Amir bertmu dengan Nasrudin, seorang menteri yang pandai. Nasarudin sangat heran dengan pemuda yang selalu memakai payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia berbuat demikian.
Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa. Nasarudin berujar, ” Begini, ya., Amir. Bukan begitu maksud pesan ayahmu dulu. Akan tetapi, pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah sebelum malam. Jadi, tidak mengapa engkau terkena sinar matahari. ”
Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pijaman uang kepada Amir. Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu.
Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam. Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti nasi kapau, lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak, sekoteng, dan nasi goreng. Lama-kelamaan usaha Amir semakin maju. Sejak it, Amir menjadi saudagar kaya.
Sumber : Bina Bahasa dan Sastra Indonesia kelas IV: Erlangga
 Kunang-Kunang Pelita Hati


Musim kemarau berlangsung lama. Pada malam hari udara terasa sangat dingin dan siang hari terasa panas. Debu-debu beterbangan kian kemari. Sungai-sungai mulai surut airnya. Pada waktu itu kunang-kunang bertelur. Ikan-ikan juga bertelur.

Tidak berapa lama datanglah seekor katak.

”Kung-kong-kung-kong ...” suara katak mengejutkan suasana.

”Ha ... ha ... ha ... hari ini aku makan besar,” kata sang katak sambil makan telur ikan.

”Hai, katak, janganlah kamu berbuat sewenang-wenang! Jangan kamu makan telurku semua. Siapa yang akan menggantikan aku nanti bila anak-anakku mati?” tanya ikan khawatir.

’Ha ... ha ... tak perlu kau melarangku. Ini makanan kesukaanku,” sahut katak dengan suara lantang.

Tiba-tiba dari jauh tampak cahaya gemerlapan. Cahaya itu berasal dari kunang-kunang yang memberi pelita kepada kegelapan. Katak meloncat, takut dan malu atas kesombongannya serta tingkah lakunya. Ia sudah sering memperoleh nasihat dari kunang-kunang.

’Hai, kenapa kamu bersedih, Ikan?’ tanya kuang-kunang.

Ikan mengadukan nasibnya kepada kunang-kunang.

”Biarlah, balasan yang setimpal akan diperoleh katak. Bersabarlah dan berbuatlah kebaikan. Aku akan selalu membantumu,” hibur kunang-kunang.

Setelah kunang-kunang pergi, katak muncul dari persembunyian dan perutnya dibusungkan.

”Laporkan saja kalau aku yang makan,” kata katak sambil mengejek.


Katak terus memakan telur-telur Ikan. Katak tidak menyangka kalau seekor ular telah mengintainya. Dengan gerakan cepat ular menerkam Katak. Katak meronta kesakitan dan meminta pertolongan.

Mendengar teriakan Katak, Kunang-kunang segera datang. Melihat cahaya Kunang-kunang, Ular merasa malu. Cahaya kunang-kunang itu seakan-akan memberi malu kepada binatang untuk berbuat dosa.

Ular melepaskan mangsanya lalu pergi. Kaki Katak terluka sehingga tidak dapat melompat dengan sempurna. Katak jongkok sambil merintih kesakitan. Katak disuruh terjun ke air oleh kunang-kunang.

Ketika Katak sudah masuk dalam air, ikan datang mengeluarkan lendir. Diusap-usapnya luka pada kaki Katak sehingga darah berhenti mengalir. Katak jera atas kesombongannya.

































KISAH DUA SAUDARA

Cerita ini berasal dari daerah di Tapanuli Utara di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Nihuta.Konon dahulu ada dua orang bersaudara namanya Datu Dalu dan adiknya Sangmaima.Orang tuanya mempunyai sebuah tombak pusaka.sesuai dengan adat,jika orang tua meninggal maka tombak pusaka itu jatuh pada anak yang tertua.
Suatu ketika Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi hutan.Datu dalu meminjamkan tombak itu kepada adiknya dengan syarat tombak itu harus dijaga baik-baik jangan sampai hilang.Sesampainya di kebun Sangmaima melihat seekor babi hutan sedang merusak tanamannya.tanda pikir panjang dia melempar babi hutan itu dengan tombaknya den mengenai lambung babi hutan itu.namun babi hutan itu masih sempat melarikan diri kesemak-semak tetapi ia hanya menemukan tombaknya saja sedangkan mata tombaknya masih melekat dilambung babi hutan itu.

Sangmaima segera pulang dan melapor kepada abangnya.dia sudah menduga kalau abangnya pasti marah besar karna mata tombaknya hilang entah kemana.”kamu harus mendapatkan kembali mata tombak itu !”seru abangnya.”Saya mohon maaf,Bang hari ini juga saya akan mencarinya.tanpa banyak bicara Sangmaima langsung pergi mencari mata tombak itu.Akhirnya ia menemukan lubang besar tempat persembunyian babi hutan. Ternyata lubang itu merupakan pintu gerbang sebuah istana bawah tanah.Disanalah Sangmaima menemukan mata tombak itu melekat ditubuh putri raja yang sedang sakit.ternyata babi hutan yang terkena tombaknya itu merupakan jelmaan putri raja.

Setelah ia menyembuhkan putri raja,diam-diam ia mengembalikan mata tombak kepada kakanya.Datu Dalu sangat gembira melihat kepulangan adiknya.Kegembiraan itu diujudkan denan pesta adat secara besar-besaran.sayangnya dalam pesta itu ia tidak mengundang adiknya.tindakan ini membuat adiknya tersinggung.lalu ia bermaksud mengadakan yang dihias dengan berbagaimacam bulu burung sehingga bentuknya menyerupai seekor burung ernga.Pesta dirumah Datu Dalu tumunya hanya sedikit.karna penasaran ia datang ketempat adiknya untuk melihat ada apa gerangan disana.ternyata tamu yang datang lebih banyak dan tertarik oleh tontonan.Maka Datu Dalu berniat untuk meminjam burung ernga untuk dijadikan tontonan dirumahnya.sangmaima meminjamkan dengan sarat kakanya harus menjaga jangan sampai burung ernga itu rusak atau hilang.Sangmaima lalu mengantarkan burung itu kerumah kakanya.Dia sendiri bersembunyi dilangit-langit rumah abangnya.Pada hari pertama pesta dirumah Datu Dalu cukup ramai karna adanya tontonan itu.malamnya diam-diam Sangmaima menemui wanita yang menjadi ernga.”besok pagi buta kamu harus meninggalkan tempat ini bawalah semua emas pakaian yang telah diberikan padamu” baik tuan.

Pada pagi hari yang kedua Datu Dalu bermaksud memenggil ernga untuk bernyanyi lagi dihadapan penonton.berulang-ulang dipanggil ernga tidak muncul.Datu Dalu cemas tidak mendapatkan ernga ditempatnya.Saat itulah Sangmaima datang mengingatkan perjanjian dengan abangnya tentang peminjaman burung ernga.Datu Dalu berusaha mengganti kerugian adiknya namun ditolak oleh adiknya.Akhirnya pertikaian tidak dapat dihindarkan lagi.kedua-duanya sangat kuat.Datu Dalu mengambil lesung lalu dilemparkan hingga jatuh dikampung Sangmaima.ajaibnya ditempat lesung itu jatuh menjadi sebuah danau yang kemudian disebut Danau Losung








CONTOH CERITA RAKYAT (DONGENG DARI PAPUA)

Di daerah Yapen Timur, tepatnya di daerah Wawuti Revui, terdapat sebuah gunung bernama Kampoi Rama. Masyarakat berkumpul dan berpesta di gunung itu. Di gunung itu juga tinggal seorang raja tanah atau dewa bernama Iriwonawai. Dewa itu mempunyai sebuah tifa atau gendang yang diberi nama sokirei atau soworoi. Jika gendang itu berbunyi, orang-orang akan berdatangan dan berkumpul karena pada kesempatan itulah mereka dapat melihat gendang itu. Akan tetapi, yang dapat melihat hanya orang-orang tua berkekuatan gaib.


Dewa Iriwinawai mempunyai sebuah dusun yang banyak ditumbuhi tanaman sagu, yaitu dusun Aroempi. Sagu merupakan makanan pokok penduduk daerah Wawuti Revui. Akan tetapi, sagu itu lama-kelamaan berkurang. Dewa marah. Kemudian sagu itu dipindah. Penduduk dusun Kampoi Rama ketakutan, mereka pindah di daerah pantai. Di sana mereka mendirikan daerah baru yang diberi nama Randuayaivi. Setelah itu, diKampoi Rama hanya tinggal Iriwonawai dan sepasang suami istri bernama Irimiami dan Isoray.

Pada suatu pagi, Isoray duduk di atas batu itu untuk berjemur diri. Beberapa saat kemudian, batu yang didudukinya itu mengeluarkan gumpalan awan panas sehingga dia tidak tahan duduk di batu itu. Kemudian Irimiami menduduki batu itu. Ternyata, apa yang dirasakan Irimiami sama dengan yang dirasakan Isoray. Setelah itu Irimiami mengambil daging rusa dan diletakkan di atas batu itu. Tidak lama kemudian, daging rusa itu diangkat dan dimakan. Ternyata daging rusa itu terasa enak. Sejak itu Irimiami dan Isoray selalu meletakkan makanan di atas batu itu.

Pada suatu hari, Irimiami dan Isoray menggosok buluh bambu di batu itu. Tidak lama kemudian buluh bambu putus dan gosokan buluh bambu mengeluarkan percikan api. Irimiami dan Isoray heran. Kemudian mereka berdua terus mengadakan percobaan di batu itu sehingga sering muncul kejadian aneh. Sampai pada puncaknya yaitu muncul asap tebal mengepul. Gendang pun berbunyi. Masyarakat berkumpul ingin menyaksikan gendang soworoi.

Irimiami dan Isoray ketakutan sehingga meminta bantuan dewa Iriwinawai. Asap menipis, penduduk kampung melihat lebih dekat. Keesokan harinya, pesta adat dimulai. Penduduk kampung Randuayaivi berkumpul membawa perbekalan, seperti sagu, keladi, daging, dan makanan lainnya. Mereka berkumpul mengelilingi batu keramat. Tidak lama kemudian, keadaan di sekitar gunung Kampoi Rama menjadi sangat cerah dengan sinar api yang keluar dari batu keramat. Setelah kejadian tersebut, setiap satu tahun sekali dilakukan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu.
 















 










LAMPIRAN- LAMPIRAN






















DAFTAR PUSTAKA
Balai Pustaka, Kamus besar bahasa Indonesia
Shakuntala Devi, Bangunkan Kejeniusan Anak Anda, Departemen Agama RI 2002




 





D. Sistimatika Pembahasan
Sistimatika penulisan tugas ini, penulis maksudkan agar memudahkan pembahasan dan pemahaman pada pembaca. Dalam skripsi ini penulis bagi lima bab dan masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab.
Sebelum memasuki bab pertama sesuai dengan persyaratan formal penulis cantumkan halaman judul, Abstrak dan kata pengantar.
Selanjutnya penulis memulai dari bab I sebagai bab Pendahuluan, adalah gambaran singkat isi tugas akhir dengan mengemukakan sub bab yang meliputi latar belakang masalah, yang dijadikan titik tolak dalam pemilihan judul skripsi ini, rumusan masalah, tujuan penelitian. Untuk mengetahui lebih jauh permasalahan serta memperoleh informasi yang berguna bagi semua pihak. Selanjunya penulis cantumkan metode
Pembahasan  penulis sajikan pada bab II, bab ini adalah pembahasan secara detail tentang rumusan masalah dan tujuan dalam penulisan tugas akhir ini. Dan selanjunya bab II, merupakan bab penutup dan juga merupakan kesimpulan dan saran-saran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar